Sabtu, 28 Desember 2024

Tanggapan Mantan Manajer Tentang Jasa Fausto Gresini

Loris Capirossi dan Fausto Gresini (MotoGP)
Gresini Racing menjadi tim balap yang saat ini cukup disegani di MotoGP.

Tim tersebut saat ini dijalankan oleh Nadia Padovani, istri dari pendiri tim yaitu Fausto Gresini yang wafat pada Februari 2021 lalu.

Gresini merupakan pembalap yang menghabiskan waktunya di Grand Prix hanya lewat kelas 125cc sejak 1983 hingga 1994.

Ia berhasil meraih juara dunia 2 kali, yaitu pada musim 1985 dan 1987.

Selain itu, ia juga meraih posisi 3 di musim 1984 dan runner-up pada musim 1986, 1991 dan 1992.

Salah satu mantan manajer timnya yaitu Francesco Pileri, memberikan tanggapan terkait jasa Gresini terhadap timnya.

Pada musim 1990, Francesco bersama Paolo Pileri menjalankan tim Pileri, yang menggunakan mesin Honda dan mengandalkan duet Gresini serta Loris Capirossi.

Capirossi menjadi juara dunia 125cc di musim tersebut dalam usia 17 tahun, sementara Gresini terhantam oleh cedera.

"Pada 1990, Fausto sudah benar-benar kalah. Ia siap membantu dan melakukan apa saja supaya Capirossi bisa menjadi juara dunia saat itu," ujar Francesco.

Meski begitu, Gresini ternyata ingin bersaing dengan rekan setimnya sendiri pada musim berikutnya yaitu 1991.

Ia sudah meraih 2 kali kemenangan dan total 9 podium saat itu, sehingga Francesco memberi pesan supaya jangan terlalu membahayakan dirinya sendiri.

"Saya bilang padanya untuk membiarkan Capirossi dan jangan coba mengejarnya. Jangan sakiti dirimu sendiri," lanjutnya.

Pada akhirnya, Capirossi berhasil mempertahankan gelar 125cc di musim 1991 dan Gresini harus puas menjadi runner-up saat itu.

Meski bersaing ketat di sirkuit, keduanya justru berteman baik di luar balapan.

Setelah Gresini pensiun pada 1994, ia masih menjalin hubungan baik dengan Francesco Pileri.

"Saya kemudian membawanya ke tim Pileri sebagai pelatih untuk pembalap kami yaitu Alex Barros pada 1996. Ketika tim menghadapi sebuah masalah, ia menghubungi Honda Brazil dan petualangannya sebagai manajer tim dimulai pada tahun selanjutnya," jelasnya.

Pada 1997, Gresini mendirikan tim miliknya sendiri dan membawa Alex Barros untuk membela timnya di kelas 500cc hingga tahun 1998.

Sejak itu, Gresini Racing menjadi tim yang diperhitungkan dengan beberapa prestasi dari kelas utama MotoGP hingga tingkat di bawahnya.

Beberapa gelar juara dunia dari tim tersebut diraih oleh Daijiro Kato (tahun 2000 di kelas 250cc), Toni Elias (tahun 2010 di kelas Moto2), Jorge Martin (tahun 2018 di kelas Moto3) dan Matteo Ferrari (tahun 2019 di kelas MotoE).***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.gpone.com/en/2021/02/23/motogp/pileri-he-helped-capirossi-to-win-the-title-with-barros-he-made-the-leap-into

Jumat, 27 Desember 2024

Kerjasama Tech3 dengan Suzuki

Danilo Petrucci (Suzuki) dan Raul Fernandez (Tech3 KTM) dalam GP Thailand 2022 (Tech3 Racing)
Pecinta balap MotoGP tentu saja mengenal kiprah tim asal Prancis yaitu Tech3.

Tim ini didirikan pada 1989 oleh Herve Poncharal, Guy Coulon dan Bernard Martignac.

Mereka pada awalnya berkompetisi di kelas 250cc, sampai kemudian masuk ke MotoGP sejak 2001 hingga sekarang.

Selain MotoGP, mereka juga memiliki tim di kelas Moto3 dan MotoE, serta pernah berada di Moto2 sejak 2010 hingga 2018.

Kemitraan yang paling dikenal di kelas utama MotoGP adalah saat bersama Yamaha sejak 2001 hingga 2018 dan KTM sejak 2019 hingga sekarang.

Namun, beberapa profil menyebutkan tentang Tech3 yang pernah melakukan kerjasama dengan Suzuki.

Dilansir dari Caradisiac.com, Semua berawal ketika Poncharal memperoleh jabatan di Honda France sejak 1983 hingga 1988.

Ia mendapatkan kesempatan untuk mengurus tim Rothmans Honda France di kelas 250cc dengan pembalap Prancis Dominique Sarron sejak 1986 hingga 1998.

Setelah ditinggal Sarron ke kelas 500cc pada 1989, Tech3 pun didirikan di tahun yang sama.

Petualangan mereka di Grand Prix dimulai saat mengurus tim Rothmans Honda France pada kelas 250cc musim 1990 dan 1991.

Pada akhir 1991, Poncharal dihubungi oleh pabrikan Suzuki, yang menawarkan posisi untuknya di kelas 250cc.

Tech3 pun melakukan kerjasama dengan Suzuki di bawah nama Lucky Strike Suzuki 250 pada 1992.

Mengandalkan Wilco Zeelenberg dan Herri Torrontegui, hasilnya di musim perdana tersebut tidak jauh istimewa.

Pada musim 1993, mereka hanya menggunakan 1 pembalap yaitu John Kocinski dari Amerika Serikat.

Meski cukup berbakat, Kocinski hanya tampil di 7 balapan pertama saja karena ia dipecat usai finis ketiga dalam balapan GP Belanda 1993.

Posisinya digantikan oleh pembalap Selandia Baru yaitu Simon Crafar, yang tidak bisa memberikan performa terbaik di sisa musim tersebut.

Sayangnya, Suzuki lalu memberitahukan bahwa mereka mundur dari 250cc pada akhir 1993, yang berarti perjalanan Tech3 dan Suzuki hanya berlangsung selama 2 tahun saja.

Kehilangan Suzuki, Poncharal sukses mengadakan kesepakatan dengan Honda France untuk membuat tim sendiri pada 1994.

Mengandalkan duet Prancis yaitu Frederic Protat dan Noel Feraut di kelas 250cc, penampilan mereka sangat buruk sehingga ia berpikir bahwa itu adalah akhir dari Tech3.

Pada 1995, Poncharal mendapat bantuan dari pembalap Jean-Philippe Ruggia untuk meyakinkan Honda dalam memberi dukungan ke Tech3.

Tech3 pun bisa berlaga di kelas 250cc musim 1995 dengan bantuan sponsor Elf dan Chesterfield, serta mengandalkan Ruggia dan pembalap muda Olivier Jacque.

Mereka memakai mesin Honda sejak 1995 hingga 1998 sebelum beralih ke Yamaha pada kelas 250cc musim 1999 dan 2000, yang kemudian dilanjutkan ke kelas utama 500cc pada 2001.

Dari penjelasan tersebut, diketahui bahwa Tech3 memang sempat menjalin kebersamaan dengan Suzuki pada kelas 250cc.

Namun, kerjasama tersebut hanya berjalan sejak 1992 dan 1993, yang bisa dikatakan sangat singkat dan jarang diketahui pecinta balap MotoGP.***

Sumber diterjemahkan dari:
  • https://www.caradisiac.com/herve-poncharal-avant-l-epoque-tech-3-127110.htm
  • https://www.caradisiac.com/les-debuts-de-tech-3-jusqu-a-l-aventure-suzuki-127111.htm
  • https://www.caradisiac.com/l-arrivee-de-ruggia-et-la-revelation-d-olivier-jacques-127112.htm

Kamis, 26 Desember 2024

Ditinggal Honda, Jordan Makin Dekat ke Ford

Takuma Sato bersama tim Jordan (Motorsport Images)
Honda Motor Company memutuskan untuk mengakhiri kontrak mesinnya di F1 dengan tim Jordan pada akhir 2002 untuk fokus kepada British American Racing.

Hal ini sudah diperkirakan sebelumnya, apalagi Jordan sudah memiliki beberapa mitra mesin cadangan sepanjang 2002 ini.

Dilansir dari crash.net, diketahui bahwa tim tersebut akan menggunakan mesin Ford-Cosworth untuk musim 2003 mendatang.

Niki Lauda, kepala tim Jaguar F1 yang juga mengawasi operasi bisnis Cosworth, mengonfirmasi bahwa Jordan sudah tertarik untuk menggunakan mesin CR3.

Meski begitu, Jordan harus mengupayakan kesepakatan jangka panjang untuk bisa menggunakan mesin pabrikan, dengan kerjasama tersebut akan diresmikan sebelum GP Hungaria 2002.

Nantinya, Jordan akan membawa label Ford (bukan Cosworth), yang membuat tim asal Irlandia tersebut akan bersaing secara langsung dengan Jaguar sebagai tim resmi Ford.

Takeo Fukui, Senior Managing Director Honda Motor Company, berterimakasih atas kerjasama yang terjalin selama 2 musim terakhir.

"Kami akan berusaha memberikan yang terbaik di beberapa balapan terakhir musim 2002 ini," ujar Fukui.

Hasil terbaik dalam kerjasama keduanya adalah finis keempat yang diraih sebanyak 3 kali pada musim 2001.

Heinz-Harald Frentzen memperolehnya dalam GP Malaysia 2001, sementara Jarno Trulli meraihnya 2 kali pada GP Spanyol 2001 dan GP Amerika Serikat 2001.

"Kami mengharapkan yang terbaik untuk Jordan Grand Prix di masa depan,'' lanjutnya.

Kepergian Honda dari Jordan mungkin saja akan berdampak terhadap nasib Takuma Sato, yang menjalani debutnya di F1 pada musim 2002 ini.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.crash.net/f1/news/43201/1/honda-exit-pushes-jordan-closer-to-ford

Rabu, 25 Desember 2024

Eddie Jordan Ungkap Alasan Pecat Heinz-Harald Frentzen

Heinz-Harald Frentzen (Motorsport Images)
Eddie Jordan, kepala tim F1 Jordan, memberitahukan alasan terkait keputusannya memecat Heinz-Harald Frentzen pada pertengahan musim 2001 lalu.

"Pada saat itu, saya tidak bisa memperbarui kontrak Frentzen karena saya harus merekrut pembalap Jepang Takuma Sato untuk atas permintaan dari Honda," ujar Jordan seperti dilansir autosport.com.

Frentzen sendiri sebenarnya berjasa untuk Jordan, dengan memenangkan 2 balapan di musim 1999.

Ini membantu tim bisa meraih hasil terbaiknya, yaitu finis ketiga di klasemen konstruktor.

Sayangnya, ia kemudian dipecat lewat pesan fax dalam balapan kandangnya di Jerman pada Juli 2001.

Jean Alesi, yang saat itu mengemudi untuk tim Prost, ditunjuk sebagai pengganti Frentzen.

Sebaliknya, Frentzen kemudian menggantikan posisi Alesi di Prost dalam beberapa balapan terakhir musim 2001.

Jordan memahami bahwa dirinya ingin Frentzen bertahan, tetapi kebutuhan untuk mesin memaksanya harus mengambil tindakan ekstrim tersebut.

"Tiada satupun kecuali saya dan beberapa orang di Jordan yang sadar mengapa saya harus mengambil keputusan itu. Saya dalam posisi sulit," lanjutnya.

Bergabung sebagai pengganti Frentzen, Sato hanya mampu memperoleh poin dalam 1 dari 17 balapan musim 2002.

Satu-satunya momen dimana ia mendapat poin adalah ketika ia finis kelima di balapan terakhir yang berlangsung di kandangnya sendiri yaitu sirkuit Suzuka, Jepang.

Honda kemudian menghentikan kemitraannya dengan Jordan pada akhir 2002 dan Sato hijrah ke British American Racing, yang saat itu dimiliki Honda sebanyak 45 persen.

Musim 2005 tampaknya akan menjadi musim terakhir Jordan di F1.

Eddie Jordan telah menjual timnya kepada pebisnis Kanada yaitu Alex Shnaider pada Januari 2005, dengan tim miliknya akan berganti nama pada 2006.***

Sumber: https://www.autosport.com/f1/news/jordan-reveals-he-sacrificed-frentzen-for-engines-5067903/5067903/

Selasa, 24 Desember 2024

Asiatech Batalkan Proyek Sasis F1 Mereka

Asiatech bersama Minardi (YouTube Jean-Michel Boileau)
Asiatech, salah satu penyuplai mesin F1, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka membatalkan proyek sasis buatan mereka.

Pengumuman tersebut terjadi sehari setelah balapan terakhir musim 2002 yang berlangsung di Jepang.

Mereka sebelumnya sukses membeli mesin yang sebelumnya dipegang oleh Peugeot pada akhir 2000.

Setelah itu, mereka menyuplai mesin yang dikembangkan ulang tersebut untuk Arrows pada musim 2001 dan Minardi pada musim 2002.

Dalam mewujudkan rencananya, mereka mengambil alih pabrik Peugeot Sport yang berada di Velizy, Prancis.

Selain itu, mereka juga membangun divisi penelitian dan pengembangan yang pernah dipakai Williams Touring Car Engineering di Didcot, Inggris.

Dilansir dari autosport.com, mereka sebelumnya sudah merencanakan keinginannya membangun mesin F1 sendiri untuk musim berikutnya.

"Asiatech mempersiapkan sasis F1 buatannya di Didcot, dengan model wind tunnel yang sudah ditampilkan dalam GP Italia di sirkuit Monza pada September 2002 lalu," tulis Asiatech dalam pernyataannya.

Saat masuk ke F1, mereka sempat berkeinginan untuk memiliki saham di tim Jordan dan Benetton, yang sayangnya ditolak.

Setelah kejadian tersebut, mereka memutuskan untuk tetap mendukung tim yang disuplainya yaitu Minardi dan Arrows secara gratis.

Meski proyek ini merupakan sebuah kepuasan dan tantangan, mereka harus mengurungkan niatnya.

Hal ini ditegaskan dalam pernyataan mereka bahwa mesin tersebut sudah siap untuk 2003, yang merupakan musim ketiga mereka.

"Proyek ini sudah sesuai jadwal, tetapi masalah dalam pendanaan yang dijanjikan membuat kami harus mengurungkan niat untuk menuju tahap selanjutnya," jelas mereka.

Dengan ini, maka kerjasama mereka dengan Minardi resmi berakhir di musim 2002.

Minardi sendiri rencananya akan menggunakan mesin Cosworth untuk menghadapi musim 2003.***

Sumber: https://www.autosport.com/general/news/asiatech-cancels-f1-chassis-project-5036014/5036014/

Senin, 23 Desember 2024

Ditolak Sauber, Enrique Bernoldi Gabung ke Arrows

Enrique Bernoldi dan Jos Verstappen (Motorsport Images)
Tim balap F1 yaitu Arrows, mengumumkan pembalap asal Brasil Enrique Bernoldi sebagai pembalap mereka di musim 2001 ini.

Pembalap berusia 22 tahun tersebut sebelumnya sempat dirumorkan akan bergabung ke Sauber.

Namun, tim tersebut lebih memilih pembalap muda asal Finlandia yaitu Kimi Raikkonen.

Bernoldi akan menggantikan posisi Pedro de la Rosa, yang sebelumnya mencetak 2 poin untuk  Arrows pada musim 2000.

Rekannya yaitu Jos Verstappen, bertahan di tim tersebut usai sukses meraih 5 poin di musim sebelumnya.

"Kami sangat senang dengan duet pembalap di tim pada musim 2001, dengan pembalap berpengalaman seperti Jos dan jiwa muda dari Enrique," ujar kepala tim Arrows yaitu Tom Walkinshaw.

Ia mengaku terkesan dengan kemampuan yang dimiliki Bernoldi saat menguji mobil tim tersebut.

Ia percaya bahwa sang pembalap dapat berkembang di F1 bersama timnya.

Kejadian yang dialami oleh de la Rosa sebenarnya juga pernah terjadi pada musim 1999.

Saat itu, pembalap asal Finlandia Mika Salo kehilangan tempatnya menjelang balapan dimulai.

Ia digantikan secara paksa oleh Toranosuke Takagi, pembalap asal Jepang yang membawa sponsor untuk tim.

Satu-satunya harapan de la Rosa adalah bergabung bersama Minardi, meski tim tersebut sedang mengincar pembalap muda asal Spanyol yaitu Fernando Alonso.

Bernoldi sendiri merasa bahagia bisa bergabung dengan Arrows, setelah ditolak di Sauber dan Prost.

"Saya menandatangani kontrak dan akan menjadi pembalap utama. Sejak awal, saya ingin mengemudi secara penuh dan bukan hanya untuk tes saja," ujar Bernoldi.

Dirinya mengaku terkesan dengan Arrows, yang menurutnya lebih baik dari Sauber.

Dengan pengalaman sebagai juara dunia Formula Renault Eropa 1996, ia berharap bisa meraih poin di musim perdananya.

Arrows sendiri akan segera meluncurkan mobilnya yaitu A22, yang menggunakan mesin dari Asian Motor Technologies (AMT).

Mesin yang juga disebut Asiatech ini mengambil dasar dari mesin Peugeot yang sebelumnya dipakai tim Prost pada musim 2000.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.espn.com/auto/news/2001/0131/1053424.html

Minggu, 22 Desember 2024

Keputusan Pembalap yang Membuat Kecewa Red Bull di F1

Kimi Raikkonen bersama Sauber di tahun 2001 (Motorsport Images)
Red Bull Racing hingga saat ini masih dikenal sebagai pemain penting di ajang balap F1.

Mereka sukses menciptakan beberapa pembalap juara dunia, seperti Sebastian Vettel dan Max Verstappen.

Semua ini berawal ketika perusahaan minuman asal Austria ini membeli tim Jaguar pada akhir tahun 2004.

Jauh sebelum itu, sebenarnya mereka sudah masuk ke F1 dengan menjadi sponsor untuk tim Sauber pada 1995.

Setelah kerjasama yang baik selama beberapa tahun, mereka memutuskan meninggalkan Sauber usai konflik terkait pembalapnya pada musim 2001.

Hal ini dijelaskan oleh Direktur Olahraga Sauber yaitu Beat Zehnder dalam podcast F1 Beyond The Grid, seperti dilansir dari mirror.co.uk.

"Red Bull sangat berharap bisa membawa Enrique Bernoldi, yang membalap di Formula 3000 pada musim 2000," ujar Zehnder.

Ia diminta oleh pemilik tim yaitu Peter Sauber untuk melihat perkembangan pembalap asal Brasil tersebut.

Ternyata, ia sangat tidak tertarik dengan performa yang ditunjukan sang pembalap.

"Mengapa Bernoldi ingin menjadi pembalap F1? Apakah karena ia ingin tempat gratis ke tim besar? Begitu pendapat saya," ceritanya.

Alih-alih Bernoldi, Sauber justru memberikan tempat tersebut kepada pembalap muda asal Finlandia yaitu Kimi Raikkonen.

Kecewa dengan keputusan tersebut, Red Bull menghentikan pendanaan sponsor kepada Sauber, yang pada awalnya direncanakan menjadi tim utama untuk perusahaan tersebut.

"Kami memilih Kimi dan bukan Enrique. Mungkin begitulah Red Bull Racing terbentuk," jelasnya.

Ditolak oleh Sauber, Bernoldi pun dialihkan ke tim Arrows untuk F1 musim 2001 dan 2002.

Hasilnya adalah ia tidak pernah mencetak satupun angka sepanjang 2 musim tersebut.

Dengan hasil itu, maka pilihan Sauber untuk merekrut Raikkonen sebenarnya sudah tepat.

Namun, Red Bull mulai menunjukkan peningkatan dengan memenangkan beberapa gelar pembalap dan konstruktor sejak 2010.

Sementara itu, Sauber hanya mampu meraih 1 kemenangan dari 462 kali start di F1, yang diperoleh lewat Robert Kubica pada GP Kanada 2008.

Jika seandainya Sauber memilih Bernoldi dan bukan Raikkonen, bisa saja nasib tim tersebut akan berbeda.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.mirror.co.uk/sport/formula-1/red-bull-sauber-bernoldi-raikkonen-28832331