Jumat, 06 November 2026

Sukses di World Supersport, Pendiri ZXMOTO Tunjukkan Optimisme Lewat "Made in China"

Pendiri ZXMOTO Zhang Xue berdiri di tengah pembalap tim Evan Bros: Federico Caricasulo (kiri) dan Valentin Debise (kanan). (evanbrosracing.com)
Kejuaraan World Supersport musim 2026 memunculkan sebuah nama pabrikan yang berhasil mendulang sukses dalam percobaan pertamanya, yaitu ZXMOTO dari Tiongkok.

Produsen sepeda motor ini baru saja berdiri tahun 2024, dengan singkatan ZX sendiri berasal dari Zhang Xue, pendiri dan pemilik perusahaan yang sebelumnya juga mendirikan produsen Tiongkok lainnya yaitu Kove.

Meski perannya di pasar masih sangat kecil, tetapi ZXMOTO sudah mampu berbicara di Supersport, di mana mereka bermitra dengan tim Evan Bros yang dulunya sukses bersama Yamaha.

Musim pertama mereka berakhir dengan manis, di mana pembalap mereka yaitu Valentin Debise, berhasil memenangkan enam balapan musim ini dan mengakhiri musim 2026 sebagai runner-up di klasemen pembalap.

Tidak cukup sampai di situ, mereka menjadi runner-up dalam klasemen tim dan menempati posisi ketiga dalam klasemen pabrikan, di bawah Yamaha dan Ducati.

Kesuksesan ZXMOTO dalam waktu singkat ini tentunya mengundang rasa hormat sampai dengan penasaran, apalagi melihat salah satu merek lainnya yaitu Honda, menghadapi kesulitan dalam bersaing di ajang balap motor berbasis produksi massal.

Dalam salah satu wawancara, Zhang Xue menyampaikan bahwa industri sepeda motor memiliki batas tersendiri, tetapi ia ingin melepas batas-batas tersebut untuk tumbuh lebih cepat dan memanfaatkan potensi besar untuk melakukan banyak perbaikan.

"Para pesaing kami ingin melampaui kami, dan kami ingin melampaui mereka. Ini seperti balapan: kita harus bekerja lebih keras, lebih fokus, berinvestasi lebih banyak dan menggunakan metode yang tepat," ujar Xue.

Xue memiliki ambisi untuk menjadikan ZXMOTO sebagai salah satu dari sepuluh produsen sepeda motor terbesar di dunia hanya dalam waktu delapan tahun.

Ia merencanakan untuk membangun sebuah pabrik baru yang akan beroperasi pada tahun 2027, dengan target yaitu memproduksi sepeda motor sampai dengan 500.000 unit.

Sebagai bentuk kebanggaan terhadap negaranya, ia juga menempelkan stiker bertuliskan "Made in China", yang biasanya selalu identik dengan barang berkualitas rendah buatan Tiongkok.

"Saya sengaja menempelkan stiker pada sepeda motor saya yang bertuliskan "Made in China", supaya ketiga kata ini tidak lagi identik dengan kualitas rendah, melainkan sebagai lambang keunggulan dan profesionalisme," katanya dengan optimis.

Ia ingin supaya produk-produk sepeda motor dari Tiongkok dapat menjadi raja di dunia, dengan terus meningkatkan kualitas, inovasi dan performa yang ditunjukkan dalam setiap produknya.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/a/supersport-wm/zx-moto-gruender-zhang-xue-made-in-china

Kamis, 05 November 2026

Valentin Debise Belum Puas Meski ZXMOTO Akhiri World Supersport 2026 dengan Manis

Valentin Debise mengendarai motor ZXMOTO 820RR-RS (Evan Bros. Racing Team)
Valentin Debise, pembalap tim ZXMOTO Factory Evan Bros Racing, berhasil mengakhiri musim dengan menempati posisi kedua klasemen, usai menyelesaikan balapan kedua World Supersport 2026 di Estoril, Portugal dengan meraih posisi ketiga.

Ini tentunya hasil yang manis bagi ZXMOTO, pabrikan motor asal Tiongkok yang baru berdiri pada tahun 2024, karena berhasil meraih sukses dalam musim perdananya.

Selain itu, ini juga menjadi prestasi membanggakan bagi Debise sepanjang karir balapnya yang panjang.

Ia menghadapi balapan di Estoril dengan tantangan, di mana ia hanya mampu menempati posisi 17 dalam kualifikasi dan hanya mendapatkan posisi keenam dalam balapan pertama.

Hasil lebih baik diperolehnya dalam balapan kedua, di mana ia tidak menyadari sama sekali bahwa dirinya sudah menjadi runner-up dalam ajang tersebut.

"Tidak ada yang memberitahu saya saat berada di podium. Saya memeriksa klasemen pagi berikutnya dan saya pun menyadarinya. Tetapi saat berada di motor, pikiran anda tidak begitu jelas. Saya berpikir mungkin akan ada yang memberitahukan tentang hal itu, tetapi saya baru mengetahuinya setelah sesi podium usai," ujar Debise.

Meraih posisi kedua atau runner-up pada klasemen bukan hal yang mudah, terutama saat menghadapi balapan yang sulit pada waktu tersebut.

"Posisi runner-up adalah tujuan saya sepanjang pekan ini. Ketika saya melihat Booth-Amos jatuh (dalam balapan kedua) dan sadar bahwa saya di depan Can Oncu dan Jaume Masia, saya tahu bahwa inilah kesempatan saya," ungkap Debise.

Balapan kedua di Estoril sempat harus diulang, akibat dari kecelakaan yang dialami oleh pembalap tim QJMOTOR yaitu Bahattin Sofuoglu.

Dalam start ulang, Debise menghadapi tantangan untuk segera menyerang cepat, dan ia memberikan pujian kepada seluruh anggota tim karena respons cepat dalam memperbaiki setingan motor yang dikendarainya.

"Start ulang dalam balapan kedua berlangsung sebanyak lima putaran. Ini bukan gaya saya, terutama pada motor ini. Tim membuat banyak perubahan saat balapan dihentikan dan itu membuat saya lebih kuat. Saya senang atas perkembangan yang diberikan hari ini," tambah Debise.

Motor ZXMOTO 820RR-RS, yang dibantu dengan kemampuan para kru tim Evan Bros pimpinan Fabio Evangelista, membuktikan kualitasnya dengan memenangkan balapan dan bersaing di papan atas World Supersport 2026.

Debise mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas seluruh pihak yang terlibat dalam proyek ZXMOTO dan Evan Bros, di mana mereka berusaha keras untuk membuatnya menjadi pembalap yang cepat.

"Rasanya saya sudah berhasil melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi saya masih belum puas dan ingin lebih," tegasnya.

Musim 2027 akan menjadi tantangan besar bagi ZXMOTO dan Evan Bros, dengan harapan bisa melebihi hasil di musim 2026, dan jika perlu memenangkan banyak balapan serta menjadi penantang gelar juara dunia World Supersport.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/en/a/worldssp/zx-moto-runner-up-title-debise-supersport-world-championship

Rabu, 04 November 2026

Tantangan Honda dalam Menghadapi World Supersport Musim 2027

Corentin Perolari bersama tim Honda World Supersport (Honda Moto France)
Dalam World Supersport musim 2026, Honda menjadi satu-satunya pabrikan yang masih menggunakan motor 600cc tradisional, yang mana secara teknis hanya mendapat perubahan minor, sehingga sulit untuk bersaing dengan pabrikan lainnya yang memiliki motor lebih baik.

Meski target yang sudah dibuat sejak musim 2026 sudah tercapai, musim berikutnya yaitu tahun 2027 akan menjadi tantangan lebih berat bagi pabrikan asal Jepang ini.

Kehadiran tim Honda yang berkompetisi di Supersport musim ini dapat diambil dari November 2024, di mana tim ini dikelola oleh CBO Racing dengan dukungan dari HRC, Honda Europe dan Honda France.

Tim ini awalnya turun sebagai wildcard di seri Magny-Cours (Prancis) musim 2024 lewat pembalap Prancis Corentin Perolari, kemudian turun penuh sejak 2025 hingga sekarang dengan duet Perolari dan Ana Carrasco, pembalap wanita yang merupakan juara dunia Supersport 300 musim 2018.

Proyek Supersport ini adalah harapan lama yang sudah diimpikan oleh Bruno Skotnicki, selaku perwakilan dari Honda France.

"Honda membangun program ini selama bertahun-tahun. Melalui divisi balap ini, tujuan kami adalah mewakili Honda dalam tingkat tertinggi pada kategori Supersport. Honda ingin meningkatkan sepeda motor, pembalap dan staf," ujar Skotnicki.

Tim Honda turun dan bersaing di bawah kompetisi WorldSSP Challenge, yang ditujukan hanya untuk pembalap-pembalap yang mengikuti balapan Supersport di seri Eropa

WorldSSP Challenge musim ini diikuti oleh duet pembalap Honda, duet pembalap tim QJMOTOR yaitu Raffaele de Rosa dan Marcos Ramirez (kemudian digantikan oleh Bahattin Sofuoglu) dan dan satu pembalap dari tim Motorsport Kofler Yamaha yaitu Andreas Kofler.

Dalam perjalanannya sendiri, Perolari meraih terbaiknya di musim 2025, di mana ia sering finis di zona poin dan menempati posisi 13 klasemen dengan total 88 poin, dengan hasil terbaiknya adalah dua kali finis kelima dalam balapan kandangnya di sirkuit Magny-Cours.

Namun, musim 2026 justru lebih berat bagi Perolari karena ia hanya mampu meraih poin dalam tujuh balapan dan hanya menempati posisi 20 klasemen pembalap dengan total 35 poin.

Ana Carrasco mendapatkan hasil lebih buruk, karena selama dua musim terakhir di tim Honda, ia sama sekali belum pernah mendapatkan poin.

Meskipun begitu, Carrasco sendiri tetap akan bersama Honda untuk musim 2027, sementara Perolari belum diketahui apakah akan tetap bersama tim tersebut atau tidak.

Dalam balapan terakhir World Supersport musim 2026 di sirkuit Jerez, Perolari menggambarkan rasa senangnya karena bisa mengakhiri balapan kedua di sirkuit tersebut dengan finis di posisi 11.

"Saya cukup senang dengan balapan terakhir minggu ini. Saya tidak menyangka bisa finis seperti ini. Pada hari Minggu, saya bisa untuk mengejar pembalap lain dan bisa lebih dekat ke grup terdepan. Saya cukup nyaman dengan motor CBR600RR dan telah berusaha sebisa mungkin. Kami tahu memang sangat sulit untuk masuk ke 10 besar, tetapi setidaknya kami sudah dekat dan berhasil meraih poin," ujar Perolari.

Dengan hasil tersebut, Perolari dan tim Honda berhasil menggenggam gelar WorldSSP Challenge, yang menurutnya sebagai pencapaian baik bagi tim.

Skotnicki mengaku sangat bangga dengan pencapaian tim Honda yang diperoleh pada musim ini, dan ia berharap supaya musim 2027 nanti tim bisa tampil jauh lebih kuat dari yang sekarang.

Meski begitu, Honda menghadapi tantangan besar dikarenakan salah satu pesaing mereka dalam WorldSSP Challenge yaitu QJMOTOR, akan bermitra dengan tim lebih besar yaitu Ten Kate Racing mulai 2027.

Perusahaan asal Tiongkok tersebut diketahui sedang bekerja keras untuk membuat motor barunya, dan mereka diramalkan akan menunjukkan penampilan lebih kuat daripada musim ini, karena dibantu oleh mitra berpengalaman dari Belanda tersebut.

Hal ini tentunya harus diwaspadai oleh Honda, karena pabrikan Tiongkok bisa saja menunjukkan kelasnya dan berpotensi menundukkan nama-nama besar, seperti ZXMOTO yang mampu meraih kesuksesan dengan kemenangan di musim 2026 sebagai musim perdana bersama mitranya yaitu Evan Bros.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/en/a/worldssp/honda-supersport-world-championship-2026-season-target-achieved-bleak-outlook

Selasa, 03 November 2026

Yamaha dalam Guncangan Pabrikan-Pabrikan Tiongkok

Pembalap Yamaha Can Oncu dan Pembalap ZXMOTO Valentin Debise (PATA Yamaha Ten Kate Racing)
Yamaha, salah satu pabrikan Jepang yang terlibat dalam kejuaraan balap motor massal mulai dari World Superbike, World Supersport dan World Sportbike, mendapatkan tantangan besar dari beberapa pabrikan dari Tiongkok pada musim depan.

Pabrikan ini sudah memiliki riwayat panjang dalam ketiga kejuaraan tersebut, terutama di kelas Supersport yang seringkali disebut sebagai "Yamaha Cup" dalam beberapa waktu terakhir, karena mereka menjadi pemasok mesin untuk banyak tim dan pembalap.

Keterlibatan mereka semakin kuat saat menjadi pemasok tunggal dalam kejuaraan WorldWCR, ajang balap motor khusus perempuan yang sudah hadir sejak musim 2024, serta kejuaraan domestik R3 World Cup yang juga digelar di sekitar beberapa seri Superbike.

Dalam kejuaraan World Superbike musim ini, Yamaha menjadi pabrikan kedua setelah Ducati sebagai pemasok motor terbanyak, terdiri atas empat motor pabrikan (melalui tim PATA Maxus Yamaha dan GYTR GRT Yamaha WorldSBK Team) dan dua motor satelit (melalui tim Motoxracing WorldSBK Team).

Namun, guncangan mulai terjadi di Yamaha, diawali dari tim Evan Bros yang memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan pabrikan motor asal Tiongkok yaitu ZXMOTO.

Kerja sama antara ZXMOTO dan Evan Bros rupanya cukup berhasil di musim pertamanya, karena pembalap utamanya yaitu Valentin Debise, berhasil menjadi runner-up di klasemen pembalap musim 2026 dan meraih kemenangan sebanyak enam kali.

Atas dasar itulah, ZXMOTO bisa menjadi penantang tangguh untuk Yamaha dalam menghadapi kejuaraan Supersport musim depan, bahkan memiliki potensi untuk menunjukkan penampilan lebih baik dari musim ini.

Belum selesai dengan Evan Bros, Yamaha kembali harus kehilangan salah satu tim andalannya yaitu Ten Kate Racing, yang memutuskan untuk bekerja sama dengan pabrikan Tiongkok lainnya yaitu QJMOTOR.

"Kami sebenarnya kecewa karena Ten Kate memutuskan arah baru di musim 2027, tetapi kami berterimakasih kepada Ronald dan Gerrit Ten Kate, beserta dengan timnya, atas segala usaha yang sudah diberikan selama delapan tahun terakhir," ujar Direktur Balap Yamaha yaitu Andrea Dosoli.

Sejak Ten Kate bergabung dengan Yamaha pada 2019, mereka sukses membukukan total tiga gelar World Supersport, yang diperoleh Dominique Aegerter pada musim 2021 dan 2022, serta melalui Stefano Manzi pada musim 2025.

"Mereka sudah membuat gelar Supersport bagi mereka sendiri bahkan sebelum pindah ke Yamaha pada 2019. Dengan tiga gelar yang diberikan, Ten Kate telah membantu Yamaha menjadi pabrikan Supersport paling sukses," lanjut Dosoli.

Ini menjadi guncangan besar bagi Yamaha, karena Can Oncu sebagai pembalap andalan mereka akan ikut ke tim Ten Kate bersama QJMOTOR.

Mereka juga kehilangan Albert Arenas, yang rencananya akan naik ke World Superbike pada musim 2027 nanti, meski AS Racing Team sebagai tim yang dibela Arenas kini sudah mendapat penggantinya yaitu mantan pembalap tim Kawasaki Jeremy Alcoba.

Dalam kejuaraan WorldWCR, posisi Yamaha sebagai pemasok tunggal juga digantikan oleh CFMOTO, yang telah menandatangani kontrak tiga tahun mulai 2027 dengan mengandalkan motor CFMOTO 675SR-R.

CFMOTO sendiri juga memiliki rencana untuk turun dalam ajang balap World Superbike musim depan, yang tentunya juga akan menjadi guncangan bagi para pembalap Yamaha.

Pada World Supersport musim 2026, tidak ada satu pun pembalap Yamaha yang mampu bersaing di baris depan dan memperoleh podium, dengan Andrea Locatelli menjadi pembalap terbaik Yamaha di posisi 12 klasemen pembalap.

Locatelli kalah dari para pembalap pengguna Ducati, duet pembalap Bimota yaitu Alex Lowes dan Axel Bassani, pembalap Kawasaki Garrett Gerloff dan pembalap debutan BMW yaitu Miguel Oliveira.

Masalah yang dihadapi para pembalap Yamaha pada World Superbike musim ini, hingga perginya tim-tim andalan Yamaha yang memilih bergabung dengan pabrikan Tiongkok, membuat Yamaha harus segera mencari solusi tepat supaya mereka bisa kembali menjadi unggulan baik di Superbike, Supersport maupun Sportbike.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/en/a/worldsbk-wc/yamaha-china-brands-new-enemy-superbike

Senin, 02 November 2026

Honda Bergabung ke Sportbike World Championship 2026 Bersama AG Motorsport Italia

Tim AG Motorsport Italia dengan motor Yamaha (atas) dan Honda (bawah) (ISBSPORT dan AG Motorsport Italia Honda)
Kejuaraan Sportbike World Championship, yang baru hadir pada 2026 sebagai pengganti dari Supersport 300, sukses memenangkan hati para penggemar balap karena memberikan persaingan lebih ketat dan banyak pabrikan yang menjadi peserta.

Enam pabrikan tetap bersaing sejak awal, yaitu Aprilia, Kawasaki, Kove, Suzuki, Triumph dan Yamaha.

Honda juga memiliki motor CBR600RR yang sudah lulus homologasi untuk Sportbike, meski pada akhirnya tidak ada satu pun tim yang ingin turun menggunakan motor tersebut.

Satu-satunya penampilan dari pabrikan Honda adalah pada seri pertama Sportbike yang berlangsung di Portimão, Portugal, melalui pembalap Prancis Diego Poncet dari tim Rac41-Honda.

Dalam balapan tersebut, Poncet menjadi wildcard dengan meraih dua kali posisi ketujuh dalam balapan seri Portugal, yang tentunya membuktikan bahwa motor Honda ini bisa bersaing di ajang Sportbike.

Sesuatu mengejutkan kemudian terjadi di antara seri Aragon dan Misano, di mana AG Motorsport Italia, salah satu tim yang sudah lama bekerjasma dengan Yamaha, memutuskan untuk berganti ke Honda di tengah musim.

"Kami dengan bangga memulai awal baru dengan motor Honda. Bagi AG Motorsport Italia, keputusan ini mengambarkan ambisi kami untuk melanjutkan pengembangan program olahraga ke standar tertinggi, dan bersaing melalui pabrikan yang kuat dan terkenal," ujar kepala tim AG Motorsport Italia yaitu Alessandra Gambardella.

Setelah pengumuman tersebut, Taiyo Aksu sebagai pembalap satu-satunya di tim AG Motorsport Italia, langsung menggunakan motor Honda CBR600RR yang telah disesuaikan dengan konfigurasi sportbike dan tanpa melakukan uji coba sama sekali dengan motor barunya.

Aksu, yang merupakan pembalap Australia berketurunan Jepang, berhasil menjalani balapan perdananya dengan motor Honda di sirkuit Misano, walaupun masih belum mendapatkan poin karena finis di luar 15 besar dalam dua balapan tersebut.

"Saya sangat senang dengan motor baru ini dan menikmati setiap lap untuk memahami lebih baik dan belajar bagaimana untuk terus berkembang. Saat Superpole, kami mampu bergerak ke atas dan mendapatkan hasil terbaik musim ini. Sayangnya, sebuah pelanggaran kecil memaksa saya untuk memulai balapan dari belakang," ujar Aksu.

Dalam balapan pertama di Misano, ia mampu bangkit dari posisi 33 ke posisi 16 dan sempat berupaya mengejar grup di depannya, sampai akhirnya ia mengalami jatuh di tikungan pertama dan mengakhiri usahanya tersebut.

Sementara itu, ia merasakan bahwa balapan kedua di sirkuit yang sama justru lebih sulit dari awal hingga akhir karena hasil balapan yang kurang memuaskan, di mana ia membuat beberapa kesalahan dan sempat bersinggungan dengan pembalap lain.

Dalam klasemen akhir Sportbike musim 2026, Aksu meraih total 14 poin dengan satu poin diperolehnya bersama Yamaha dalam empat seri yaitu Portimão, Assen (Belanda), Most (Ceko) dan Aragon (Spanyol).

Sisa 13 poin lainnya justru diperoleh bersama Honda, ketika ia turun dalam seri Misano (Emilia-Romagna, Italia), Magny-Cours (Prancis), Cremona (Italia) dan Jerez (Spanyol).

Hasil terbaiknya adalah pada seri Jerez, di mana ia finis kesembilan di balapan pertama dan kesepuluh di balapan kedua, yang menjadikan hasil terbaiknya di musim ini sekaligus menjadi bukti bahwa pilihan tim untuk pindah ke Honda bukan hal yang salah.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/en/a/worldspb/sportbike-world-championship-honda-seventh-manufacturer

Minggu, 01 November 2026

Kejutan di World Superbike 2026: Kawasaki Menjadi Pabrikan Jepang Terbaik

Aksi Garrett Gerloff bersama Kawasaki di World Superbike (Kawasaki Worldsbk Team)
Dalam World Superbike musim 2026, Ducati dengan motor Panigale V4R terbarunya berhasil menguasai seluruh balapan, dengan cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya sejak kejuaraan tersebut hadir pada musim 1988.

Bimota menjadi pabrikan kedua yang terkuat dan BMW juga sempat bersaing untuk podium dalam beberapa balapan, tetapi pabrikan dari Jepang sama sekali kesulitan bersaing pada baris depan dalam balapan musim ini, bahkan tidak memperoleh podium dalam satu balapan pun.

Satu hal yang cukup mengejutkan dari seluruh pabrikan Jepang di World Superbike, adalah bagaimana Kawasaki bisa unggul atas Yamaha dan Honda.

Hal ini dibuktikan dari klasemen pembalap World Superbike musim 2026, yang menempatkan pembalap tim Kawasaki yaitu Garrett Gerloff, pada posisi kesepuluh.

Gerloff mampu mengungguli Andrea Locatelli sebagai pembalap terbaik Yamaha yang hanya di posisi 12 klasemen dan Jake Dixon sebagai pembalap terbaik Honda di posisi 19 klasemen.

Meski berjuang seorang diri, Gerloff mampu untuk menghadapinya dan bisa cukup konsisten sepanjang seri balapan musim ini.

"Kami menghadapi keadaan naik dan turun, tetapi secara keseluruhan saya cukup puas dengan tim dan motor Kawasaki Ninja ZX-10RR. Saya merasa bahwa saya sudah berjuang maksimal dengan motor ini, dan saya cukup senang bisa masuk 10 besar dalam klasemen," ujar Gerloff.

Motor Kawasaki ZX-10RR yang digunakan dalam World Superbike adalah model yang paling tua, sejak desainnya dihadirkan pada 2009, meski terdapat beberapa perubahan dalam beberapa tahun.

Apa yang terjadi dengan Kawasaki jelas sangat berbeda dengan Yamaha dan Honda.

Motor Yamaha R1 yang digunakan saat ini berdasarkan desain versi tahun 2015 dan pada musim ini menurunkan seluruh motor pabrikan untuk keempat pembalapnya.

Selain itu, Honda CBR1000RR-R dengan dua pembalapnya, juga menggunakan versi terbaru pada tahun 2020.

Dengan hasil seperti ini, Kawasaki tentunya sangat percaya diri dalam menghadapi World Superbike musim 2027, di mana Gerloff akan tetap menjadi pembalapnya.

"Musim depan, saya tentu saja ingin membuat peningkatan besar dan berusaha lebih keras untuk posisi yang lebih baik. Kami akan melakukan banyak perbaikan di masa rehat, kemudian berjuang keras dan siap untuk 2027," tambah Gerloff.

Tim Kawasaki yang saat ini hadir di World Superbike awalnya merupakan tim satelit yang dimiliki oleh Manuel Puccetti lewat Puccetti Racing.

Pada akhir 2024, Kawasaki mempercayakan Puccetti untuk mengelola tim yang kini berstatus pabrikan, untuk menggantikan tim utama Kawasaki yang kini sudah menjadi Bimota.

Puccetti mempertahankan nama Kawasaki lewat strategi ini, di mana ia mengandalkan Gerloff sebagai pembalapnya sejak musim 2025 di World Superbike, sambil juga tetap mengelola tim World Supersport.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.speedweek.com/en/a/worldsbk-wc/kawasaki-gerloff-surprise-2026-sbk-world-championship-superbike

Sabtu, 03 Oktober 2026

Aprilia Tidak akan Ikut Serta dalam Kelas Moto2

Alvaro Bautista dengan motor balap Aprilia 250cc di tahun 2009 (Corsedimoto)
Pabrikan motor asal Italia yaitu Aprilia, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak akan ikut serta dalam kelas balap Moto2 pada 2010 mendatang.

Mereka menganggap bahwa kelas tersebut adalah hal yang merugikan bagi citra perusahaan.

Meski sempat beberapa kali meraih gelar juara dunia di kelas 125cc dan 250cc, Aprilia pada akhirnya telah membuat keputusan terkait nasibnya di kelas tersebut.

Hal ini juga membuat Piaggio Group sebagai induk Aprilia tidak akan memberi dukungan motor pabrikan penuh ke kelas Moto2, tetapi juga menghentikan pengadaan motor Aprilia, Gilera dan Derbi ke tim pengguna.

Pengumuman ini tentunya menjadi hal yang sangat mengejutkan, pasalnya perusahaan tersebut cukup merajai kelas 250cc pada musim 2009.

"Menurut pandangan kami, kelas Moto2 tidak mewakili karakteristik secara teknologi dan olahraga dengan strategi Aprilia dalam kejuaraan seperti ini," begitulah yang disampaikan Piaggio Group dalam pernyataannya.

Mereka menyoroti tentang kelas Moto2 yang meningkatkan mesinnya dari 250cc ke 600cc, dan dianggap hanya menguntungkan salah satu pabrikan saja.

"Oleh karena itu, bergabung dalam kejuaraan yang hanya memfokuskan teknologi mesinnya kepada satu pabrikan, adalah suatu hal yang merusak citra kami sebagai perusahaan yang telah memenangkan sekitar 43 gelar balapan motor," lanjut mereka.

Diketahui bahwa mesin 600cc akan jauh lebih menguntungkan Honda, pabrikan asal Jepang yang merupakan pesaing mereka di kelas 250cc.

Honda diketahui akan menjadi satu-satunya pabrikan di Moto2, setelah pesaing lainnya yaitu KTM, juga mengundurkan diri beberapa bulan sebelum pengumuman dari Aprilia & Piaggio Group.

Aprilia kini akan mengutamakan pengembangan ke ajang World Superbike, yang sudah mereka ikuti pada musim 2009.***

Sumber: https://www.autoevolution.com/news/aprilia-quits-moto2-series-blames-rules-13671.html