Sabtu, 07 Desember 2024

Ten Kate Honda Terkejut Pere Riba Gantikan Alex Criville

Pere Riba bersama Yamaha D'Antin (motos.coches.net)
Pere Riba, pembalap motor asal Spanyol, memberi kejutan usai dirinya memutuskan untuk meninggalkan tim balap World Supersport yaitu Ten Kate Honda.

Padahal, musim 2002 akan berjalan sebentar lagi dengan seri pertama World Supersport yang berlangsung di sirkuit Valencia pada 10 Maret 2002.

Dilansir dari roadracingworld.com, Riba diketahui telah menerima tawaran untuk hijrah ke MotoGP bersama tim Yamaha D'Antin pimpinan Luis d'Antin.

Ia dipilih untuk mengendarai motor YZR500 dengan menggantikan posisi Alex Criville yang memutuskan pensiun jelang MotoGP musim 2002.

Sebelumnya, ia menunjukkan hasil yang baik dalam tes musim dingin dan sempat disebut sebagai penantang gelar World Supersport 2002.

Manajer tim Ten Kate Honda yaitu Ronald Ten Kate mengaku terkejut dengan keputusan yang diambil oleh sang pembalap.

"Meski saya mengharapkan yang terbaik untuknya, saya merasa terkejut dengan keputusannya karena ia sudah menunjukkan performa terbaiknya di motor CBR dan ia tampak bahagia," ujar Ten Kate.

Tindakannya tersebut dianggap bertentangan dengan perilakunya di musim 2001 yang menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab terhadap tim.

Ten Kate mengklaim bahwa kepergian Riba ada hubungannya dengan permintaan dari d'Antin yang juga mendapat dukungan dari sponsornya yaitu Repsol.

"Tampaknya kami menjadi korban dari politik dimana Repsol meminta d'Antin untuk mengganti Criville dengan pembalap yang juga dari Spanyol," lanjutnya.

Ia menyayangkan tindakan sang pembalap, terutama kepada tim Ten Kate Honda yang sudah membantunya.

"Kami sangat menyesalkan kejadian seperti ini, tetapi kami berharap bisa menyelesaikan masalah tersebut secepatnya dengan tim lain," tutupnya.

Dengan waktu yang sangat singkat, Ten Kate harus segera mencari pengganti Riba dan akan diumumkan sesegera mungkin.***

Sumber: https://www.roadracingworld.com/news/riba-quits-world-supersport-to-replace-criville-in-motogp/

Jumat, 06 Desember 2024

Cara Kenny Roberts Membawa Marlboro ke Timnya

Wayne Rainey bersama tim Marlboro Yamaha Roberts di tahun 1990 (Duke Video)
Kenny Roberts adalah seorang pembalap ternama asal Amerika Serikat yang dikenal karena memiliki 3 gelar Grand Prix balap motor yang kini dikenal sebagai MotoGP.

Sukses dengan balapan lokal di Amerika Serikat, ia diminta pihak Yamaha USA untuk turun ke ajang tersebut pada 1978.

Di musim pertamanya tersebut, ia turun di 2 kelas yaitu 250cc dan 500cc.

Tanpa diduga, ia mampu mengalahkan Barry Sheene dalam perebutan gelar di tahun tersebut yang membuatnya menjadi juara dunia balap motor pertama asal Amerika Serikat.

Prestasi tersebut kembali diulangnya pada 1979 dan 1980, dan ia mengakhiri karirnya pada tahun 1983.

Selesai dengan pekerjaannya sebagai pembalap, ia mendirikan tim miliknya sendiri dengan nama Team Roberts di tahun 1984.

Pada tahun tersebut, ia masuk ke kelas 250cc menggunakan motor Yamaha bersama Wayne Rainey dan Alan Carter, meski hasilnya tidak sukses.

Setelah absen pada 1985, ia kembali ke ajang Grand Prix pada 1986 di kelas 500cc.

Pada periode 1986 hingga 1989, timnya tersebut disponsori oleh British American Tobacco dengan produknya yaitu Lucky Strike.

Namun, perubahan besar terjadi menjelang musim 1990 dengan perubahan terhadap sponsor.

Dilansir dari magazine.cycleworld.com, Roberts mampu mendapatkan sponsor rokok lainnya yaitu Marlboro (Philip Morris) yang sebelumnya berada di bawah naungan Giacomo Agostini, juara dunia balap motor 13 kali.

Ini membuat tim Marlboro Yamaha berpindah kepemilikan dari Agostini ke Roberts.

Kehilangan sponsor di kelas 500cc, Agostini pada akhirnya bertahan di musim 1990 dengan tetap membawa nama Marlboro Yamaha di kelas 250cc dengan duet Luca Cadalora (Italia) dan Alex Criville (Spanyol).

Timnya bersaing dengan Roberts, yang juga membawa nama Marlboro Yamaha dengan pembalap asal Amerika Serikat yaitu John Kocinski.

Tidak hanya itu, Roberts berhasil membawa pulang juara dunia 4 kali Eddie Lawson, yang sebelumnya meninggalkan Yamaha untuk meraih gelar 500cc bersama Honda di tahun 1989.

Lawson dipasangkan dengan Wayne Rainey, yang merupakan pesaing gelar di tahun tersebut.

Menariknya, Roberts adalah orang yang sebelumnya meyakinkan Agostini untuk memilih Lawson sebagai rekan satu timnya di Marlboro Yamaha pada tahun 1983.

Kombinasi sempurna antara Marlboro, Yamaha dan Roberts diperkuat dengan pembalap seperti Rainey, Lawson dan Kocinski di 2 kelas berbeda.

Roberts mengatakan bahwa uang yang diberikan Marlboro memiliki nilai 2 kali lebih besar dari sebelumnya diberikan Lucky Strike.

Ini akan membantu timnya untuk melakukan lebih banyak pengujian dan penelitian, menutupi gaji pembalap yang semakin besar, serta mewujudkan ambisinya untuk mendominasi musim 1990.

Ditinggal oleh Roberts dan Yamaha, Lucky Strike beralih ke Suzuki untuk musim 1990 dengan duet pembalap Kevin Schwantz (Amerika Serikat) dan Kevin Magee (Australia).***

Sumber diterjemahkan dari: https://magazine.cycleworld.com/article/1990/5/1/all-the-kings-men

Kamis, 05 Desember 2024

Ligier Menggaet Sponsor Baru

Ligier JS43 tahun 1996 (Motorsport Images)
Ligier, tim balap F1 asal Prancis, mengumumkan bahwa mereka telah resmi memperpanjang kontraknya untuk 2 musim dengan perusahaan rokok yang juga dari negara mereka yaitu Societe d'Exploitation Industrielle des Tabacs et Allumettes (SEITA).

Sejak memulai kiprahnya pada 1976, tim tersebut sudah disponsori oleh SEITA yang menggunakan merek Gitanes sepanjang karirnya.

Namun, untuk 1996 dan 1997 tim menggaet sponsor baru yang juga produk rokok di bawah naungan SEITA yaitu Gauloises Blondes.

Gauloises sebelumnya pernah tampil di beberapa balapan musim 1994, ketika mensponsori tim Larrousse.

Dilansir dari grandprix.com, meski Ligier tidak menjelaskan sejala rinci terkait dana yang diberikan SEITA, tetapi terdapat dugaan bahwa nilainya sudah dikurangi karena adanya perubahan kebijakan dari kedua belah pihak.

Ligier sendiri sudah bukan lagi milik Prancis dan diketahui kepemilikannya sudah dibagi antara Flavio Briatore (pemilik tim Benetton) dengan Tom Walkinshaw (pemilik tim Tom Walkinshaw Racing atau TWR).

Pihak lain yang terlibat adalah Guy Ligier selaku pendiri tim dan perusahaan Ligier, serta yang terduga seperti keluarga Benetton hingga pemilik F1 saat itu Bernie Ecclestone.

Meski begitu, tim masih berusaha mempertahankan unsur Prancis dengan mempekerjakan mantan pembalap mereka yaitu Jacques Lafitte di bagian humas serta menunjuk Andre de Cortanze sebagai direktur teknik.

SEITA, yang sebelumnya di bawah naungan pemerintah Prancis, sudah menjadi perusahaan swasta sejak Februari 1995.

Briatore bahkan meminta direktur SEITA saat itu yaitu Jean-Dominique Comolli untuk tetap mempertahankan dukungannya kepada Ligier.

Selain sponsor baru, Ligier juga memperpanjang kesepakatan untuk memakai mesin Mugen Honda selama 2 musim berikutnya.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.grandprix.com/news/ligier-gets-gauloises.html

Rabu, 04 Desember 2024

Renault Mengundurkan Diri, Williams Pilih Mecachrome

Tim balap Williams F1 tahun 1998 (YouTube Kresljedos/F1)
Renault, pabrikan asal Prancis, telah mengumumkan pengunduran dirinya usai musim F1 tahun 1997.

Baru-baru ini mereka telah menjual seluruh proyek mesinnya kepada Mecachrome, yang juga berasal dari negara yang sama.

Dilansir dari grandprix.com, Williams menjadi tim pertama yang mengonfirmasi penggunaan mesin Mecachrome untuk musim 1998 dan 1999.

Tim yang baru saja menjadi juara dunia di musim 1997 ini diketahui harus tetap membayar untuk mesin V10 tersebut.

"Kesepakatan itu terasa menyakitkan, tetapi mesinnya cukup bisa diandalkan. Saya berharap supaya tim kami tidak terus membayar mesin tersebut untuk selamanya," ujar Frank Williams selaku pimpinan tim.

Kesepakatan ini diharapkan bisa menghemat anggaran serta mempertahankan para pemegang saham dan serikat pekerja di Renault, yang saat itu sedang menghadapi masa sulit.

Meski begitu, perusahaan tersebut memberi sinyal akan kembali dalam waktu dekat apabila kondisi ekonomi di Prancis sudah memungkinkan.

"Renault akan kembali ke F1 dalam 3 atau 4 tahun," ujar Louis Schweitzer selaku pimpinan perusahaan.

Didirikan pada tahun 1939, Mecachrome dimiliki oleh keluarga Casella dengan saham sebanyak 70 persen dan saat itu perusahaan tersebut dipimpin oleh Gerald Casella.

Mereka sudah menjadi bagian dari proyek F1 Renault sejak tahun 1974, bahkan membantu mempersiapkan mesin V6 Turbo untuk tim pelanggan Renault sejak 1983 hingga 1986.

Pada 1992 hingga 1994, mereka mendapatkan kepercayaan untuk membuat mesin kepada tim asal Prancis yaitu Ligier.

Tim lainnya yang memakai jasa Mecachrome-Renault adalah Williams dan Benetton pada 1995 dan 1996.

Selain mengurus proyek F1, perusahaan yang saat itu mempekerjakan 440 pegawai tersebut juga membantu dalam proyek yang dilakukan perusahaan dirgantara Aerospatiale dan Snecma hingga perusahaan mobil Peugeot.

Manajer proyek F1 Mecachrome yaitu Jean-Yves Houe mengharapkan F1 menjadi usahanya dalam mempromosikan keahlian teknik sekaligus melanjutkan penelitian dan pengembangan yang sebelumnya dilakukan Renault.

Kesepakatan tersebut diketahui akan membuat para pekerja Renault ditempatkan di markas Mecachrome yang berada di Aubigny-sur-Nere dekat Bourges, bagian tengah Prancis.

Mecachrome mengaku siap menerima jasa tim lainnya yang ingin memakai mesinnya, tentunya juga harus membayar seperti Williams.

Sebuah perusahaan yang menjual atau meminjamkan mesinnya kepada pihak lain bukan hal yang aneh di F1.

Pada tahun 1992, perusahaan otomotif Mugen mengambil alih proyek dari pabrikan asal Jepang yaitu Honda.

Mereka melanjutkan proyek V10 Honda sampai suatu saat pabrikan tersebut akan kembali ke F1 lagi di waktu mendatang.***

Sumber: https://www.grandprix.com/news/williams-to-use-mecachrome-v10s.html

Selasa, 03 Desember 2024

Renault Pamit dari F1 di Akhir Tahun 1997

Tim Williams F1 tahun 1996 dengan mesin Renault (Motorsport Images)
Renault Sport mengumumkan pada Juni 1996 ini bahwa mereka akan pamit dari F1 setelah kontraknya selesai pada akhir 1997.

Perusahaan asal Prancis yang sudah ada di F1 sejak 1977 ini sebelumnya juga sempat pamit pada 1987 dan 1988 usai regulasi baru mesin V10 saat itu.

Sepanjang kiprahnya di F1, mereka sudah memenangkan total 60 balapan, 3 kali gelar juara dunia pembalap dan 4 kali gelar juara dunia konstruktor.

Dilansir dari grandprix.com, pamitnya mereka diketahui berhubungan dengan masalah ekonomi yang melanda negaranya.

Meningkatnya mata uang Franc Prancis terhadap mata uang lain membuat mereka kesulitan menjual produk mereka di luar negaranya.

Baru-baru ini, perusahaan tersebut telah menjadi perusahaan swasta dan mereka membutuhkan adanya dukungan penuh dari pemegang saham.

Renault Sport, yang mengurus proyek F1, akan merencanakan proyek selanjutnya dalam beberapa waktu mendatang.

Salah satu yang diincarnya adalah IndyCar, yang diketahui lebih murah dibanding proyek F1.

Dampak dari keputusan tersebut adalah pengurangan staf di Renault Sport, hingga pekerja yang memilih hijrah ke perusahaan lain atau tim lain di F1.

Pamitnya Renault justru menjadi keuntungan tersendiri bagi Peugeot, karena markas keduanya tidak terlalu jauh.

Peugeot diketahui akan mempelajari segala pengetahuan di Renault untuk menghasilkan mesin yang lebih baik di F1.

Pasca kontraknya dengan Jordan habis pada akhir 1997, mereka berupaya untuk menarik minat tim besar F1 untuk menjadi mitranya.

Dengan ini, tim yang menggunakan mesin Renault seperti Williams dan Benetton harus mencari alternatif mesin lain.

Salah satu kabar menyebutkan bahwa Renault hanya akan pamit selama setahun untuk menjalankan program IndyCar yang direncanakannya.

Apabila program tersebut berhasil, mereka akan kembali ke F1 dengan tim asal Prancis, yang disinyalir merupakan Ligier.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.grandprix.com/news/renault-to-quit-f1-at-the-end-of-1997.html

Senin, 02 Desember 2024

Ford Resmi Membeli Stewart Grand Prix

Stewart Grand Prix (Motorsport Images)
Legenda balap F1 yaitu Jackie Stewart baru-baru ini mengumumkan terkait pembelian tim miliknya yaitu Stewart Grand Prix oleh Ford Motor Company pada Jumat, 11 Mei 1999 lalu.

Dilansir dari grandprix.com, Ford diketahui melakukan pembelian dengan nilai sekitar 30 hingga 40 juta USD.

Nilai tersebut jauh lebih rendah karena raksasa Amerika Serikat tersebut sudah berinvestasi ke dalam tim selama kurang lebih 2 tahun terakhir.

Keputusan Ford untuk membeli Stewart sejalan dengan komitmen mereka untuk sukses di balapan F1 yang didukung dengan kendali penuh untuk membuat keputusan.

Ini menjadi langkah besar dalam menghadapi pesaing lainnya yang juga akan masuk F1 seperti Toyota, Honda dan General Motors.

Stewart mengakui bahwa ia harus menjual timnya dalam upaya untuk menantang tim besar seperti Ferrari dan McLaren.

"Jika kami tetap berjalan seperti biasa, kami takkan bisa bersaing setidaknya dalam 10 tahun," ujar juara dunia 3 kali tersebut.

Ia akan tetap dalam posisinya sebagai pimpinan dan kepala eksekutif tim, dengan putranya yaitu Paul masih sebagai wakil pimpinan.

Meski begitu, ada kemungkinan bahwa keduanya tidak akan menjabat posisi tersebut lagi di waktu yang akan datang.

Menurut kabar, Stewart Grand Prix sendiri akan berganti nama menjadi Jaguar, perusahaan mobil mewah asal Inggris yang berada di bawah naungan Ford.

Jaguar sendiri sudah berusaha keras untuk mengubah identitas tim tersebut untuk bisa menyaingi pabrikan asal Jerman yaitu BMW.

Proses peralihan sendiri direncanakan terjadi pada 2000 atau 2001, dengan pihak Jaguar dan Ford sedang mencari sponsor untuk timnya.

Beberapa nama besar di F1 menjadi incaran terkait siapa yang akan memimpin tim Jaguar dan Ford tersebut, yang mana di antara mereka bekerja untuk tim rival.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.grandprix.com/news/ford-buys-stewart.html

Minggu, 01 Desember 2024

Lola Sukses Menggaet MasterCard

Tim balap F1 MasterCard Lola (motorsport.com)
Perusahaan mobil asal Inggris yaitu Lola Cars telah mengonfirmasi keikutsertaan mereka di F1 musim 1997 dan mengadakan perjanjian sponsor sebanyak 4 tahun dengan perusahaan kartu kredit asal Amerika Serikat yaitu MasterCard.

Keputusan di akhir ini sangat sulit bagi para insinyur di perusahaan tersebut, mengingat mobil yang rencananya dinamai T97/30 ini harus siap pada bulan Februari 1997.

Dilansir dari grandprix.com, mereka akan menggunakan mesin Ford ED V8 karena mesin mereka sendiri yaitu V10 masih dalam persiapan.

Ini merupakan upaya keenam dari perusahaan milik Eric Broadley setelah mencoba dalam beberapa waktu yang berbeda.

Mereka sempat membuat mobil untuk tim Bowmaker Yeoman Credit pimpinan Reg Parnell pada 1962, tetapi tim tersebut hanya bertahan kurang dari setahun.

Selanjutnya, mereka melakukan kerjasama dengan Honda untuk membuat mobilnya sendiri, dengan satu-satunya kemenangan diraih John Surtees pada GP Italia 1967 di sirkuit Monza.

Setelah menguasai balap sportscar di era 1960an, mereka kembali ke F1 lewat tim Embassy Hill pimpinan juara dunia Graham Hill, yang tidak berlangsung lama.

Usai meraih sukses pada era 1980an lewat IndyCar dan Formula 3000, mereka mengadakan kerjasama dengan perusahaan Beatrice dan manajer balap Carl Haas untuk membangun proyek bernama Formula One Race Car Engineering (FORCE).

Kerjasama tersebut menghasilkan tim Haas Lola, yang sebenarnya hanya sekadar nama saja karena Lola sendiri tidak ikut terlibat dalam proyek tersebut.

Tim tersebut turun di F1 pada 1985 dan 1986 dan menggunakan nama-nama besar seperti Alan Jones, Patrick Tambay hingga Eddie Cheever.

Pada 1988, Lola bekerjasama dengan Larrousse hingga tahun 1992 dan beralih ke Scuderia Italia pimpinan Beppe Lucchini pada 1993 dengan membuat mobil yang dipadukan dengan mesin Ferrari.

Kegagalan di proyek terakhir tersebut membuat mereka undur diri di akhir musim untuk membuat mobil F1 buatan sendiri tanpa bantuan pihak lain.

"F1 menawarkan kestabilan bagi perusahaan kami. Ini sangat bagus karena pengembangan teknis di F1 akan meringankan aspek lainnya dalam operasi kami," ujar Brett Trafford selaku Direktur Pemasaran Lola F1 Team.

Trafford bekerja keras dalam mencari dana untuk tim yang mencapai 45 juta USD, dan beban Lola dalam keuangan akan lebih ringan usai kesepakatan dengan MasterCard yang mencapai 10 juta USD per tahun.

Hal ini didukung dengan keinginan MasterCard dalam mempromosikan produknya secara eksklusif melalui keanggotaan pemegang kartunya.

Nilai pembayaran keanggotaan paling rendah adalah 79 hingga 99 USD per tahun, lalu menengah yaitu 279 hingga 299 USD per tahun, dan tertinggi yaitu 1999 hingga 2999 dengan yang terakhir hanya tersedia untuk 320 anggota saja.

Jika mengikuti keanggotaan tersebut, pemegang kartu MasterCard akan memperoleh pernak-pernik, pakaian tim, foto dengan tanda tangan pembalap, hingga surat kabar.

Mereka juga akan mengadakan lelang produk balap bagi anggota serta khusus untuk anggota tertinggi akan diajak dalam acara khusus dan makan malam yang diselenggarakan oleh tim Lola F1.

"Ini adalah sesuatu yang baru dalam pemasaran olahraga. Kami membawa beragam manfaat ini kepada pemegang kartu MasterCard yang belum pernah mereka miliki sebelumnya," ujar perwakilan MasterCard yaitu Mava Heffler.

Proyek yang segera dijalankan pada Februari 1997 ini akan membuat MasterCard mendapatkan popularitas dari F1 melalui penggunaan kartu kreditnya.

Kesepakatan ini dilakukan pada 5 November 1996 lalu dan kini Lola sedang berusaha untuk mencari pembalap untuk musim depan.

Beberapa pembalap memiliki potensi untuk bergabung dari tim tersebut mulai dari Martin Brundle, Allan McNish, Ricardo Rosset, Ricardo Zonta dan Tom Kristensen.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.grandprix.com/news/lola-lands-mastercard.html