Minggu, 28 Januari 2024

Jangan Berikan Ekspektasi yang Tinggi Terhadap Pedro Acosta

Pedro Acosta bersama Tech 3 (Tech 3 Racing)

MotoGP 2024 akan meriah dengan kehadiran pembalap muda asal Spanyol, Pedro Acosta.

Pembalap yang digadang-gadang sebagai bintang besar MotoGP selanjutnya ini bergabung bersama tim GasGas Factory Racing Tech 3.

Ia menjadi rekan satu tim dari Augusto Fernandez, yang pernah menjadi rekan satu timnya di Moto2 tahun 2022.

Kehadiran Acosta di MotoGP 2024 sempat membuat penggemar bingung terkait nomor yang akan digunakannya.

Penggemar tampak ingin Acosta menggunakan nomor kebanggaannya yaitu 37, yang sayangnya sudah dipakai oleh Fernandez.

Acosta pun memasang nomor 31 dengan alasan memiliki kemiripan desain dengan angka 37.

Ia pernah mengalami hal serupa di Moto2 musim 2022 dengan berganti nomor menjadi 51 dengan alasan serupa yang juga melibatkan Fernandez.

Banyak penggemar MotoGP sangat yakin bahwa ia bisa bersaing untuk setidaknya menyerang barisan depan.

Prestasi yang ditorehkannya pun sangat luar biasa, meski dirinya masih dalam usia sangat muda.

Ia sukses menjadi juara Red Bull Rookies Cup pada 2020, dan secara ajaib menjadi juara dunia Moto2 musim 2021 yang merupakan musim perdananya secara resmi di Grand Prix.

Setelah tampil kurang baik di Moto2 musim 2022, ia berhasil menyelesaikan musim 2023 dengan menjadi juara dunia.

KTM sebagai pabrikan yang membesarkan namanya tentu tidak ingin membuat bakat sang pembalap menjadi sia-sia.

Mereka pun harus rela untuk menggantikan Pol Espargaro demi memberi tempat kepada Acosta di Tech 3.

Dengan segala prestasi yang ditorehkan oleh Acosta, banyak penggemar tampaknya memiliki ekspektasi tinggi atau bahkan terlalu tinggi untuk seorang debutan.

Namun, tentu akan lebih baik jika penggemar tidak memberikan ekspektasi yang tinggi bagi sang pembalap.

Acosta hanya membalap untuk tim satelit KTM, dan bisa dilihat bagaimana performa tim tersebut dalam beberapa waktu belakangan.

Jika melihat dari prestasinya, penggemar tentu berharap supaya ia langsung bisa bersaing di barisan depan dan menjadi juara.

Namun, hal tersebut tampaknya terlalu tinggi untuk dicapai, meski kemungkinannya juga bisa saja terjadi.

Hal yang paling realistis untuk dicapai Acosta adalah kemampuannya untuk rutin mencetak poin di setiap seri.

Ia sendiri pun mengaku tidak ingin dibebani dengan sebutan pembalap ajaib atau pembalap yang akan mengganti posisi Marc Marquez sebagai nama tenar saat ini.

Ia mengaku hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan ingin meraih segala kesuksesan dengan caranya sendiri.

Menarik untuk ditunggu tentang bagaimana performa Pedro Acosta dalam menghadapi MotoGP musim 2024 ini.

Tentu akan sangat luar biasa jika dirinya dapat menjadi sosok yang diperhitungkan dalam persaingan kejuaraan balap motor dunia tersebut.***

Sabtu, 27 Januari 2024

Ini Dia Toni Elias, Pembalap Pertama yang Meraih Gelar di Kelas Moto2

Toni Elias juara dunia Moto2 tahun 2010 (motogp.com)

Toni Elias sukses memenangkan gelar juara dunia kelas Moto2 dalam balapan yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada 10 Oktober 2010 lalu.

Ini gelar perdana bagi sang pembalap di seluruh kelas yang telah diikutinya, sekaligus menjadi pembalap pertama yang meraih gelar di kelas baru tersebut.

Perebutan gelar resmi berakhir saat Julian Simon, satu-satunya pembalap yang bisa mengalahkan Elias, terjatuh di balapan setelah bersaing untuk posisi ketiga.

Simon bangkit dan mengakhiri balapan di posisi 21, sementara Elias mengakhiri balapan di posisi 4 setelah bersaing dengan Andrea Iannone.

Balapan tersebut sukses dimenangkan oleh Roberto Rolfo, dengan Alex de Angelis berada di belakangnya.

Elias melakukan selebrasi dengan mengganti pakaian dan helmnya dengan motif silver dan menambah angka 1 di motornya.

Ia sempat mengalami cedera jelang musim 2010, tetapi masih mampu meraih pole position perdananya di Moto2 dalam GP Qatar.

Kemenangannya di GP Spanyol yang berlangsung di Jerez menjadi awal dari kesuksesannya dalam meraih 7 kemenangan di musim tersebut.

Pembalap tim Gresini tersebut sudah memimpin sejak seri ketiga dan memenangkan lebih banyak balapan dibanding pembalap yang lain.

Sampai pada balapan di Malaysia, ia menjadi satu-satunya pembalap yang selalu mencetak poin di setiap balapan, dan hal tersebut membuat dirinya layak menjadi juara dunia.

Moto2 merupakan kelas baru yang dihadirkan pada 2010 dengan motor 600cc 4-tak yang menggantikan kelas 250cc 2-tak.

Kelas ini menggunakan mesin seragam dari Honda, yang ditaruh dalam desain sasis yang dibuat oleh beberapa pabrikan berbeda.

Kehadiran kelas baru tersebut membuat persaingan lebih seru, apalagi jumlah pembalap yang bersaing mencapai 40 pembalap.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.crash.net/moto2/news/164154/1/toni-elias-wins-first-moto2-title

Jumat, 26 Januari 2024

Sponsor Tim Yamaha di Tahun 2004 Tuai Masalah, Ada Apa?

Peluncuran tim MotoGP Yamaha tahun 2004 (Imago Images)

Pabrikan Yamaha, sebagai salah satu nama besar di MotoGP, pernah mendapatkan masalah perihal sponsor mereka.

Hal itu terjadi pada tahun 2004, ketika mereka mengumumkan Gauloises dan Fortuna sebagai sponsor tim pabrikan dan tim satelit mereka saat itu yaitu Tech 3.

Keputusan untuk memilih dua produk tersebut menuai gelombang protes terkait meningkatnya sponsor rokok serta penggunaan dua livery yang berbeda.

Pada tahun 2003, Gauloises mensponsori tim Tech 3 dan Fortuna mensponsori tim pabrikan Yamaha.

Pada daftar pembalap tahun 2004, diketahui bahwa tim pabrikan akan memakai nama Gauloises Fortuna Yamaha dan tim satelit dengan nama Fortuna Gauloises Tech 3.

Valentino Rossi dan Carlos Checa membalap untuk tim pabrikan, sementara Norick Abe dan Marco Melandri membalap untuk tim satelit Tech 3.

Yamaha sadar bahwa menaruh dua sponsor di setiap motor akan menimbulkan masalah, sehingga mereka memutuskan untuk menaruh satu pembalap di setiap tim dengan warna dari salah satu merek tersebut.

Valentino Rossi dan Norick Abe akan menggunakan livery Gauloises, sementara Carlos Checa dan Marco Melandri akan menggunakan livery Fortuna.

Kasus ini cukup membingungkan bagi orang yang baru menyaksikan MotoGP, meski belum ada peraturan yang saat itu membolehkan bahwa satu tim memiliki dua livery berbeda.

F1 telah menerapkan peraturan tersebut dengan tujuan supaya penonton bisa mengenali tim dan pembalap yang ada.

Kasus yang dialami Yamaha ini sebelumnya juga pernah terjadi di F1 lewat British American Racing (BAR).

Saat peluncuran tim di tahun 1999, BAR menggunakan dua sponsor yaitu Lucky Strike yang digunakan Jacques Villenueve, dan 555 yang digunakan Ricardo Zonta.

FIA selaku penyelenggara F1 kemudian memprotes hal tersebut, dikarenakan tidak boleh ada satu tim dengan beda livery, sehingga mereka meminta BAR untuk melakukan perubahan.

BAR mengakali hal tersebut dengan memberikan dua livery dalam satu mobil, dengan Lucky Strike di sebelah kiri dan 555 di sebelah kanan.

Meski langkah BAR bisa dilakukan hingga akhir musim, keputusan sebuah tim untuk disponsori dua merek rokok sangat tidak pantas, ketika ajang olahraga berusaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap uang dan periklanan rokok secara keseluruhan.

Kejadian tersebut pada akhirnya membuat tidak ada lagi tim F1 yang disponsori lebih dari satu merek rokok, meskipun secara keuntungan sangat menjanjikan.

Kasus yang sama pun dialami oleh Yamaha dengan menggunakan Gauloises dan Fortuna sebagai sponsornya.

Keduanya merupakan merek dari perusahaan Altadis dan sudah hadir di MotoGP selama beberapa tahun, berbeda dengan Lucky Strike dan 555 yang tiba-tiba langsung ada di F1.

Protes pun datang dari perusahaan rokok sejenis terkait dengan penamaan ganda terhadap tim atau pembalap, hingga orang-orang yang berkampanye untuk melawan rokok.

Pada akhirnya, dua tim dengan dua livery berbeda tersebut bisa berjalan dan mengarungi musim 2004 hingga selesai.

Pada musim 2005, Gauloises secara penuh hijrah ke tim pabrikan Yamaha dan Fortuna hijrah ke Tech 3, sehingga pertentangan mengenai satu tim dengan dua livery di MotoGP pun berakhir sudah.***

Sumber:

  • https://www.crash.net/motogp/feature/73658/1/trouble-ahead-for-gauloises-fortuna-teams
  • https://www.crash.net/motogp/news/73673/1/unusual-yamaha-livery-announced
  • https://www.crash.net/motogp/feature/73786/1/barcelona-treated-as-yamaha-unveils-new-line-up

Kamis, 25 Januari 2024

Inilah Momen Ketika Max Biaggi Pernah Mencoba Mobil F1

Max Biaggi mengetes mobil F1 (Motorsport Images)

Pecinta balap motor MotoGP mungkin masih belum banyak yang mengetahui bahwa seorang Max Biaggi pernah menjajal mobil F1 di masa lalu.

Max Biaggi merupakan salah satu pembalap unggulan di era MotoGP pada 2000an, dan dikenang karena persaingannya dengan Valentino Rossi.

Ia meraih 4 kali gelar juara dunia 250cc dari 1994 hingga 1997 serta 2 kali gelar juara dunia World Superbike pada 2010 dan 2012.

Pasca tidak mendapatkan tempat untuk MotoGP musim 2006, ia mendapatkan tawaran menggiurkan yaitu mengetes mobil F1.

Tawaran tersebut diberikan oleh Midland F1 Team (kini Aston Martin) dalam sebuah tes privat di sirkuit Silverstone, Inggris.

Dalam tes yang berlangsung dalam keadaan dingin tersebut, tim berusaha untuk menguji mesin baru Toyota dengan Biaggi yang mengemudikannya.

"Pengalaman tersebut sangat menyenangkan. Ini adalah pertama kalinya saya di Silverstone. Ini kesempatan yang bagus, sayangnya kondisi di sirkuit sangat basah dan itu bukan hal yang bagus," ujar Biaggi seperti dilansir Crash.net.

Ia mengaku bahwa mengemudikan mobil F1 sangat mudah dilakukan, dengan melepas batas kecepatan hingga menaikkan mobil hingga ke gigi tertinggi.

Ia menyebut bahwa tawaran tersebut sudah dilakukan sejak sebulan sebelumnya, tetapi ia ingin berpikir terlebih dahulu tentang itu.

"Telepon berbunyi dan tim tersebut memberi saya kesempatan. Tim ingin membuat semua ini terjadi sejak sebulan lalu. Saya sempat berpikir dan saya putuskan, kenapa tidak? Saya ambil tawaran itu dan sekarang saya bisa mengenal sirkuit tersebut," jelasnya.

Ternyata, tes yang dilakukan bersama Midland bukanlah yang pertama, karena ia sudah pernah melakukannya bersama Ferrari pada 1999 dengan memperoleh 60 lap.

Namun, ia mengaku bahwa pengalaman bersama Midland lebih menantang dibandingkan bersama Ferrari.

Berkat penjelasan tentang hal-hal dasar seperti cara kerja setir, tombol, perangkat elektronik, hingga radio, ia bisa memahami tentang mobil dalam waktu singkat.

Biaggi jelas bukan satu-satunya yang pernah mencoba mobil F1, karena pesaingnya yaitu Valentino Rossi juga pernah melakukannya.

Bahkan, pembalap berjuluk The Doctor tersebut sempat berkeinginan untuk membalap di F1 bersama Ferrari.***

Sumber:
  • https://www.crash.net/f1/feature/226147/1/remember-when-max-biaggi-tested-an-f1-car
  • https://www.youtube.com/watch?v=loJ20IS70C4

Rabu, 24 Januari 2024

Kemenangan Dramatis Ralf Waldmann dalam Balapan Kelas 250cc GP Inggris 2000

Detik-detik Ralf Waldmann menjuarai balapan GP Inggris 2000 di kelas 250cc (MotoGP)

Ralf Waldmann mencetak kemenangan dramatis di tikungan terakhir dalam balapan kelas 250cc GP Inggris 2000 setelah tertolong oleh hujan di saat-saat terakhir.

Pembalap Jerman tersebut menolak perintah tim sejak awal balapan dengan menggunakan ban basah.

Hasilnya sudah jelas ketika ia sempat menganggap bahwa keputusan yang diambilnya adalah kesalahan, dikarenakan trek basah mulai perlahan mengering dan menguntungkan pengguna ban intermediate.

Olivier Jacque, yang berada di pole position, memulai balapan dengan baik dan langsung membuat jarak dengan pembalap lainnya.

Tohru Ukawa juga langsung melesat ke posisi kedua, diikuti dengan dua pembalap tuan rumah yaitu Jay Vincent dan Jamie Robinson juga ikut dalam perebutan podium.

Balapan ini pada awalnya terlihat seperti hari buruk Aprilia, dimana selain Waldmann yang gagal mempertahankan posisinya, pembalap tim pabrikan Marco Melandri juga mengalami jatuh di lap ketiga.

Shinya Nakano, rekan satu tim Jacque di Chesterfield Yamaha, juga mengalami masalah karena mengalami penurunan posisi dari awalnya berada di start terdepan.

Pada 10 lap terakhir, hujan kembali mengguyur sirkuit Donington Park dan menyebabkan kekacauan bagi pembalap.

Jamie Robinson jatuh di tikungan Craner Curves karena kehilangan cengkeraman ban, membuatnya menyusul rekan satu timnya di QUB yaitu Adrian Coates, yang juga gagal finis.

Vincent juga mengalami masalah ketika dirinya hampir mengalami jatuh di tikungan Old Hairpin dan keluar jalur, tetapi ia berhasil bertahan di posisi ketiga.

Cuaca tersebut ternyata cukup menguntungkan bagi pembalap yang berjudi menggunakan ban basah, seperti Waldmann dan Naoki Matsudo yang membela Petronas Yamaha.

Keduanya mulai masuk ke posisi 10 besar dan kemudian mulai naik ke posisi 5 besar dengan jarak hanya 9 detik dari Jacque.

Vincent kehilangan posisi ketiganya usai disalip Waldmann dan Matsudo pada 1 lap terakhir dimana hujan saat itu semakin deras.

Keduanya juga berhasil menyalip Tohru Ukawa yang berada di posisi kedua dan berupaya untuk mengejar Jacque yang masih memimpin.

Jacque tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi hal tersebut, dan ia melihat Waldmann mendekatinya di tikungan terakhir dan kemudian menyalipnya sehingga ia kehilangan kemenangan yang ada di depan mata.

"Saya bahagia karena berada di posisi kedua. Risiko jatuh tampaknya cukup tinggi, sehingga saya tidak bisa berbuat apapun ketika Ralf datang. Saya melihatnya di tikungan terakhir, tetapi ban motor saya mulai berputar sehingga sangat tidak mungkin untuk menghentikannya," jelas Jacque.

Cengkeraman Waldmann tersebut mampu mengalahkan Jacque, yang kesulitan mengendalikan motor dan memiliki kemungkinan untuk disalip oleh Matsudo yang berada di posisi ketiga.

"Banyak yang mempertanyakan keputusan saya untuk berganti ke ban basah. Para mekanik juga mengatakan bahwa keputusan itu adalah kesalahan. Namun, saya disalip berkali-kali saat menggunakan intermediate di Assen. Karena hal itu, saya tidak takut untuk membuat keputusan dalam balapan hari ini. Pada beberapa lap awal, itu tampak seperti sebuah kesalahan. Namun, hujan mulai turun dan saya bisa kembali meraih posisi lebih baik. Nasib saya tidak terlalu baik musim ini, tetapi saya beruntung karena bisa memenangkan balapan.

Tohru Ukawa dan Jay Vincent berhasil menyelesaikan balapan dengan berada di posisi lima besar.

Shinya Nakano, yang menjadi pemimpin klasemen saat itu, hanya mampu menyelesaikan balapan di posisi 7 dan hal itu menyebabkan dirinya harus merelakan puncak klasemen kepada Jacque.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.crash.net/motogp/news/68849/1/waldmann-triumphs-with-splash-and-dash

Selasa, 23 Januari 2024

Jeremy McWilliams Gabung dengan Proton KR dalam MotoGP Musim 2002

Jeremy McWilliams dalam game MotoGP URT 2 (THQ/Climax)

Pembalap motor asal Ulster yaitu Jeremy McWilliams, telah mencapai kesepakatan untuk mengendarai motor Proton KR3 pada MotoGP musim 2002 mendatang.

Ia bergabung dalam tim yang dipimpin oleh mantan juara dunia balap motor Kenny Roberts Sr., dengan markas mereka yang berada di Banbury, Inggris.

Pembalap yang pada tahun 2001 berusia 37 tahun tersebut telah menandatangani kontrak satu tahun dan akan bertandem dengan mantan pembalap Suzuki yaitu Nobuatsu Aoki.

Roberts Sr. mengaku bahagia karena McWilliams sepakat untuk bergabung bersama timnya.

"Ia memiliki banyak pengalaman dengan jenis motor yang berbeda, dan ini akan membantunya dalam menjalankan program kami. Ia selalu memberikan 100% terhadap penampilannya. Pengalaman dan kecepatan adalah hal yang penting yang telah ia miliki," ujar Roberts Sr.

McWilliams menjadi pembalap Inggris pertama yang memenangkan balapan Grand Prix setelah 15 tahun.

Ia berhasil memperolehnya kala menjadi juara di kelas 250cc yang diselenggarakan di sirkuit Assen, Belanda.

Motor Proton KR3 yang akan digunakan tim Roberts akan tetap menggunakan mesin 500cc 2-tak.

Mereka akan bersaing dengan pabrikan utama yang telah menggunakan motor 990cc dan tim lainnya yang masih menggunakan motor 500cc.*** 

Sumber diterjemahkan dari: https://www.irishexaminer.com/sport/arid-30033596.html

Senin, 22 Januari 2024

British American Racing Luncurkan Mobil Tahun 1999 dengan Dua Livery

Livery tim British American Tobacco (BAR) pada tahun 1999 (Atlas F1)

"Kebanggaan dan selera atas pencapaian," itulah kata-kata yang digunakan oleh Craig Pollock, Managing Director British American Racing (BAR), saat peluncuran tim pada awal Januari 1999.

Peluncuran BAR di fasilitas baru dan canggih milik tim yang bermarkas di Brackley, Northamptonshire ini dihadiri oleh lebih dari 500 perwakilan media dan tamu.

Mobil pertama tim yaitu BAR-Supertec 01 pun diluncurkan bersama kedua pembalap mereka yaitu Jacques Villeneuve dan Ricardo Zonta.

Markas tim sendiri terletak di dekat sirkuit Silverstone, tempat penyelenggaraan balapan F1 GP Inggris, yang setara layaknya Silicon Valley.

"Ini akan membuat semua orang bisa meraih pencapaian di sini. Setahun lalu, ini hanya tempat berlumpur yang dilintasi aliran sungai. Kini, tempat ini telah menjadi pusat terbaru dan terlengkap dalam dunia balap mobil. Dengan menggabungkan teknologi dan dedikasi dari 202 staf kelas dunia, kami menghadirkan fasilitas yang sempurna sebagai upaya BAR untuk meraih gelar juara F1,'' jelas Pollock.

Semuanya tersedia di markas tim tersebut, mulai dari fasilitas wind tunnel yang tersedia di tempat dan membuat tim untuk bisa bekerja secara mandiri.

BAR merilis mobilnya dengan dua livery yang unik dan mencerminkan produk dari sponsor: Lucky Strike menggunakan warna merah dan putih, sementara State Express 555 menggunakan motif planet biru dan kuning.

Meski penggunaan kedua merek tersebut akan meningkatkan nilai logistik jika dibandingkan dengan satu merek konvensional, Tom Moser selaku Kepala Sponsor Global British American Tobacco menyatakan bahwa tantangan yang dimiliki akan jauh lebih kecil dibanding manfaatnya.

"Sebagai sebuah perusahaan, kami memasarkan produk dengan cara yang berbeda dan inovatif dibandingkan pesaing kami. Karena itu, kami mengadopsi pendekatan unik yang serupa ketika memutuskan untuk masuk F1 lewat British American Racing. Lucky Strike dan State Express 555 terkenal di seluruh dunia, sehingga pemilihan tersebut sangat logis sebagai cara kami melakukan promosi,'' ujar Moser.

"Pendekatan ini memang menimbulkan kontroversi di kalangan F1, tetapi kami masih sulit memahami alasannya berdasarkan sudut pandang kami. Lagipula, tim F1 di masa lalu pernah memakai mobil dengan livery yang berbeda. Menurut kami, hal tersebut tidak mengurangi penampilan dan malah meningkatkannya,'' lanjutnya.

Dalam peluncuran tersebut, Jacques Villeneuve akan mengemudikan mobil yang disponsori Lucky Strike, sementara Ricardo Zonta akan mengemudikan mobil yang disponsori 555.

Mobil perdana tim BAR ini menggunakan mesin Supertec dan sasis yang diberi nama BAR 01, hsil karya dari tim desain yang dipimpin oleh Malcolm Oastler dan diawasi oleh direktur teknis yaitu Adrian Reynard.

Oastler telah bekerja bersama Reynard Racing Cars selama bertahun-tahun dan ia sangat tahu persis tentang apa yang diinginkan dalam balapan F1 pertamanya.

Ia mengaku ingin memulai semuanya dari awal berdasarkan peraturan teknis yang diberikan F1, dimana timnya memiliki tujuan dalam menghasilkan paket optimal yang akan memberi efisiensi maksimal.

"Menurut saya, BAR-Supertec 01 adalah mobil tercanggih di F1 saat ini. Kami ingin mobil ini memberikan performa terbaik, efektif, dan andal. Kami juga ingin segera memulai balapan, dibanding harus membuang waktu untuk menyelesaikan masalah karena upaya kami yang terlalu banyak. Saya yakin kami sudah mencapainya. Saya begitu antusias dengan apa yang telah dihasilkan dan kami sangat optimis terhadap peluang kami," ujar Oastler.

Konsep dari mobil tersebut diciptakan di layar komputer dengan bantuan software 3D Computer Aided Design (CAD) yang terbaru.

Setelah pembuatan konsep selesai, model windtunnel 50% diproduksi sebagai langkah pemeriksaan dan upaya dalam mengasah performa aerodinamis, dengean pengetesan yang dilakukan selama 1500 jam di Auto Research Center Indianapolis dan Universitas Southampton.

Ban juga menjadi salah satu elemen penting dalam menentukan performa mobil F1 modern, yang juga menjadi pertimbangan bagi Oastler dan tim saat merancang mobil tersebut.

"Kami memang belum melakukan pengujian apapun pada ban Bridgestone spesifikasi tahun 1999 yang telah diputuskan saat membuat desain utama mobil, karena itu kami memilih untuk membuat sasis yang mudah disesuaikan di sejumlah bagian,'' lanjut Oastler.

Ia mengaku telah memikirkan tentang posisi BAR setelah beberapa tes, tetapi mereka memiliki tujuan besar untuk menang dan hal itu akan diwujudkan di balapan pertama yaitu GP Australia 1999.***

Sumber diterjemahkan dari: https://www.atlasf1.com/news/1999/1045.htm