Tim balap Formula 1 asal Inggris yaitu Arrows, diketahui telah dijual kepada konsorsium baru dalam kesepakatan senilai sekitar US$175 juta pada Januari 1999 ini. Sebagian besar uang tersebut diperkirakan sudah masuk ke kantong dari kedua pendiri tim, yaitu Jackie Oliver dan Alan Rees. Keduanya masih menjadi pemilik saham di tim dalam beberapa tahun terakhir, tetapi baru-baru ini telah menyewakan kepemilikan saham mayoritas kepada Tom Walkinshaw (pemilik tim balap Tom Walkinshaw Racing) bersama rekannya yaitu Peter Darnbrough.
Oliver dan Rees mendirikan Arrows pada 1977 bersama ketiga rekannya sebagai investor, tetapi rekan-rekannya tersebut lalu menjual kepemilikan saham mereka beberapa tahun kemudian. Keduanya lalu menyewakan tim tersebut kepada perusahaan logistik asal Jepang yaitu Footwork, pada awal 1990-an sampai akhirnya mereka berdua mengambil alih kembali. Dilansir dari grandprix.com, keduanya kini sudah sepakat untuk menjual kepemilikan tim tersebut untuk selamanya dan tidak lagi menyewakan seperti sebelumnya.
Arrows mengumumkan bahwa Walkinshaw akan memiliki saham sebanyak 25 persen sekaligus menjabat sebagai ketua di tim. 5 persen saham sendiri akan dipegang oleh seluruh karyawan Arrows, sementara sisa 70 persen akan dipegang oleh 2 pihak, yaitu Malik Ado Ibrahim (seorang Pangeran asal Nigeria yang berdomisili di Inggris) dan Morgan Grenfell Private Equity Ltd. (perusahaan investasi yang merupakan bagian dari Deutsche Bank).
Belum diketahui secara pasti terkait siapa yang akhirnya akan memiliki saham paling besar di tim Arrows, tetapi beberapa sumber dalam dunia bisnis menyebutkan bahwa Morgan Grenfell tidak tertarik untuk mengendalikan keseluruhan tim dan cukup menjadi pemegang saham saja. Ini berarti mayoritas saham tim Arrows mungkin akan dikendalikan oleh Pangeran Malik bersama dengan Walkinshaw.
Terkait dengan latar belakang Pangeran Malik, sulit untuk diketahui tentang siapa dirinya dan keterlibatan apa saja yang pernah dilakukannya di dunia bisnis dan pengelolaan tim balap. Siaran pers dari Arrows menyatakan bahwa ia terlibat dalam beberapa kegiatan seperti penjualan Lotus (perusahaan mobil Inggris Raya) ke Proton (perusahaan mobil Malaysia), mempunyai keterlibatan dalam bisnis telekomunikasi, hingga adanya hubungan dengan perusahaan besar seperti Mitsui (perusahaan multinasional Jepang) dan Arcadia (perusahaan ritel Inggris Raya).
Keterlibatan para pemegang saham baru di Arrows merupakan tren yang sedang marak, di mana tim balap Formula 1 menjual saham ke pemodal skala besar yang ingin balik modal dengan cepat, apalagi situasi balapan Grand Prix saat ini dinilai cukup menguntungkan. Kesepakatan tersebut bukan hanya untuk Arrows saja, tetapi juga untuk Grand Prix Racing Engines, perusahaan mesin yang sebelumnya dipegang insinyur kawakan asal Inggris yaitu Brian Hart. Ini adalah kabar buruk bagi Zakspeed, tim asal Jerman yang sempat berkeinginan mengambil Arrows di beberapa waktu sebelumnya.
Usai mendapat pemegang saham baru, Arrows kini harus mencari sponsor yang menjanjikan untuk kebutuhan investasi tim di masa depan. Tim ini masih terjebak dengan paket mesin yang kurang lebih sama seperti di musim sebelumnya (1998) dan dalam beberapa bulan terakhir saja sudah banyak staf tim yang meninggalkan mereka. Saat ini, masih ada 168 karyawan tersisa di markas tim yang berlokasi di Leafield, Inggris. Beberapa di antara karyawan tersebut antara lain Mike Coughlan sebagai direktur teknik, Gordon Message sebagai penanggung jawab operasional tim, dan John Walton sebagai kepala tim. Coughlan memutuskan untuk bertahan di Arrows, meski sempat melakukan negosiasi dengan pabrikan Honda.
Berkat kesepakatan tersebut pula, sebagian besar utang di tim yang mencapai sekitar US$20 juta rencananya akan dilunasi. Namun, belakangan ini terjadi gugatan hukum antara Walkinshaw dengan Pedro Diniz, pembalap asal Brasil yang membela tim tersebut di musim 1998. Diniz dituntut pria asal Skotlandia tersebut sebesar US$7 juta karena memutuskan kontraknya di Arrows secara sepihak untuk bergabung ke Sauber pada musim 1999. Diniz memang dikontrak oleh Arrows hingga 1999, tetapi di dalam kesepakatan tersebut terdapat klausul kinerja yang gagal dipenuhi Arrows sehingga ia memilih untuk pindah.***
Sumber diterjemahkan dari: https://www.grandprix.com/news/new-owners-for-arrows.html